Monolog #9 - Dua Puluh tahun 1998
Tulus tulisan ini aku tuliskan buat ibu yang aku gelarkan mama,
Dua puluh tahun dahulu, ketika itu engkau hanya berumur dua puluh satu. Tepat waktu zohor dua puluh hari bulan sembilan tahun 1998, engkau selamat melahirkan aku yang masih kosong akan fitnah dunia. Mungkin pada waktu itu, yang aku kenal hanyalah haruman tubuhmu yang bisa menenangkan kebingitan tangisku.
Dua puluh tahun, hari ini kasihnya engkau masih setia menjaga aku sepenuh kudratmu. Mataku ini menjadi saksi engkau kesana kemari menggali sumber rezeki. Masih, sehingga ke hari ini, belum pernah sekali pun engkau berhenti rehat apatah lagi mengeluh tidak pernah aku dengar. Aku cuma melihat, senyuman indah dan masa yang engkau luangkan dengan kami. Mama, apakah erti sebenar kebahagiaan bagimu?
kata-kataku yang manis, puitis ini tiadalah ertiya buatmu. Semuanya bagai angin yang menyapa lembut ke pipimu sahaja. Ia akan hilang sekelip mata. Sungguhlah aku takut sebenarnya. Memikirkan masa depan yang sudah pasti tiadalah kuasa untuk aku meramal.
Mama, doamu tinggi dan bernilai disisi Tuhan. Cuma doa dan keberkatan yang aku harapkan agar kami bisa menjaga sehingga ke akhir hayat. InsyaAllah, dengan izinNya.
Selamat hari lahir buat diriku, Selamat sudah melahirkan, ibuku.
Tanggal hari ini Dua Puluh,
Dua puluh tahun hayatku.
Allah, sayang ibuku.
Dua puluh tahun dahulu, ketika itu engkau hanya berumur dua puluh satu. Tepat waktu zohor dua puluh hari bulan sembilan tahun 1998, engkau selamat melahirkan aku yang masih kosong akan fitnah dunia. Mungkin pada waktu itu, yang aku kenal hanyalah haruman tubuhmu yang bisa menenangkan kebingitan tangisku.
Dua puluh tahun, hari ini kasihnya engkau masih setia menjaga aku sepenuh kudratmu. Mataku ini menjadi saksi engkau kesana kemari menggali sumber rezeki. Masih, sehingga ke hari ini, belum pernah sekali pun engkau berhenti rehat apatah lagi mengeluh tidak pernah aku dengar. Aku cuma melihat, senyuman indah dan masa yang engkau luangkan dengan kami. Mama, apakah erti sebenar kebahagiaan bagimu?
kata-kataku yang manis, puitis ini tiadalah ertiya buatmu. Semuanya bagai angin yang menyapa lembut ke pipimu sahaja. Ia akan hilang sekelip mata. Sungguhlah aku takut sebenarnya. Memikirkan masa depan yang sudah pasti tiadalah kuasa untuk aku meramal.
Mama, doamu tinggi dan bernilai disisi Tuhan. Cuma doa dan keberkatan yang aku harapkan agar kami bisa menjaga sehingga ke akhir hayat. InsyaAllah, dengan izinNya.
Selamat hari lahir buat diriku, Selamat sudah melahirkan, ibuku.
Tanggal hari ini Dua Puluh,
Dua puluh tahun hayatku.
Allah, sayang ibuku.
hari ini 20 september 1998 berulang. ~200918
Comments
Post a Comment